Selasa, 25 Maret 2014

Kehilangan

Kehilangan, bicara tentang kehilangan, siapa sih didunia ini yang gak takut sama yang namanya “kehilangan”? Gue rasa, bukan gue doang yang takut kehilangan, tapi, kayaknya semua makhluk dimuka bumi ini takut sama satu kata itu, bukan takut sama katanya, tapi takut sama kejadian si kata itu.
Entah apa yang dirasa saat ketakutan itu datang secara tiba-tiba, entah apa yang bakal dilakuin saat ketakutan itu benar-benar datang, dan entah apa pula yang akan terjadi selanjutnya saat ketakutan itu telah berlalu. Semua ada ditangan Allah, semua rahasia Allah, gak ada satu orangpun yang tau kapan ketakutan itu datang. Ya, benar, semua adalah rahasia sang pencipta.
Siapa sih yang mau kehilangan? Apalagi kehilangan orang-orang yang kita cintai. Iya, bukan? Kadang kala, gue sendiri ngerasa betapa gak enaknya didatangin kehilangan itu, betapa sedihnya didatangin kehilangan itu. Siapa yang tau kehilangan itu bakal terjadi kapan, dimana, lagi ngapain, sama siapa dan apapun itu? Gak akan ada yang tau.
Pernah sekali gue didatangin sama ketakutan yang amat-sangat gue takutin, ya rasanya emang gak karuan. Tapi, gue mikir, mungkin ini salah gue, mungkin ini karena faktor dia, mungkin ini karena orang ketiga, mungkin ini karena, mungkin ini karena, mungkin ini karena dan mungkin, mungkin, mungkin. Gue gak tau pasti, tapi yang jelas saat kehilangan itu datang rasanya keren abis! Gak ada yang bisa nandingin, suer.
Gue rasa kehilangan itu satu hal yang gue benci didunia ini. Kenapa? Karena gue mikir, kenapa harus ada pertemuan kalau harus ada perpisahan? Kenapa harus ada mendapatkan kalau harus ada melepaskan? Kenapa harus ada perjuangan kalau harus ada sia-sia? Tapi, gue belajar tentang kehilangan, dari surah Al-Baqarah: 216. “... Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”, quotes “Jika ia yang kamu cinta lebih bahagia tanpa adanya dirimu, apakah kamu mau meninggalkannya? Susah memang, namun bukan berarti tak bisa. Toh, esensi meninggalkan dan ditinggalkan adalah ‘berbahagia tanpa’, bukan ‘bersedih dengan’.”
Kadang kala, rasa takut akan kehilangan itu selalu ada di dekat gue. Entah takut kehilangan teman, sahabat, keluarga, orang-orang terdekat, dsb. To be honest, gue sekarang lagi dihantui dengan rasa takut itu. Entah kenapa dan karena siapa. And, finally, gue mikir semua yang Allah kasih ke gue itu cuma titipan, cuma titipan, gak kurang dan gak lebih. Boleh jadi gue sekarang bisa memiliki, tapi siapa yang tau kapan bakal kehilangan? Kalau kata doi sih, back to basic and let it flow aja. Semua pasti ada jalannya, kok. Jadi, tenang aja. Tapi, kasih bumbu juga dengan terus berdo’a dan terus berusaha.

Sabtu, 16 November 2013

488 Words.

Di kehidupan baru gua yang belum lama ini, kira-kira 5 bulanan bersama teman-teman X-MIPA1, gua punya banyak pengalaman baru dari mereka. Dari mulai solidaritas, nerima satu sama lain, nerima keegoisan oranglain, belajar menghargai, belajar menghadapi masalah, saling bantu satu sama lain, saling ngasih support satu sama lain, pokoknya masih banyak lagi deh.
          Salah satu keluarga kecil gua, bukan salah satu sih, salah empat hahaha. Abaikan. Yang salah empat itu, Mutiara Eka Putri, Aphrodita Kuncoro, Dwi Puteri Atikah, dan Nindya Dera. Gua nulis urutan namanya emang gitu karena gua gabisa nulis nama kalian semuanya dinomor satu, walaupun gitu, kalian tetep nomor satu ko dihati gua. Ea hahaha.
          Gua tau ini berlebihan dan bisa dibilang ini lebay tingkat dewa. Dan mungkin, baru gua satu-satunya yang dengan Pede-nya nulis ini tanpa maksud apa-apa. Bukan gitu sebenernya, gua nulis ini cuma pengen aja kalau nanti gua udah pisah sama kalian gua masih bisa buka blog gua dan inget-inget kalian lagi. Rada weird sih sebenernya, tapi mau gimana lagi, gua bener-bener sayang sama kalian.
          Kalian yang bikin gua bangkit lagi dari rasa down gua, kalian yang bikin gua semangat ke sekolah, kalian yang ngajarin gua dengan penuh kesabaran disamping ke beletan gua, kalian yang bikin gua tau tujuan disaat gua bingung harus ngapain, kalian yang selalu bikin gua ketawa-ketiwi dengan lelucon kalian, kalian bisa nerima gua apa adanya, kalian yang gapernah bosen dengerin curhatan aneh gua, kalian yang mau nerima kekurangan gua, kalian yang bangkitin gua disaat gua banyak masalah, kalian yang bilang ‘Jangan pindah, diluar sana lebih blablabla’ ‘Yakin mau pindah?’ ‘Gua juga disini down, tapi balik lagi, gua disini karena gua mau banggain orangtua gua. Lu juga harus punya alesan kenapa lu disini.’ ‘Banyak orang-orang yang ga seberuntung lu bisa masuk sini’ ‘Lu harus banyak-banyak bersyukur dengan semua ini. Yakin aja kalau Allah ngasih yang terbaik buat lu.’, kalian juga yang bilang ‘Udah selow, baru semester 1, masih ada semester 2. Lu harus nunjukkin kalau di semester 2 lu bisa.’ ‘Selow aja, gua juga dapet segitu kok.’
          Semua lontaran kata-kata kalian bakal gua inget sampai kapanpun, kalian temen terbaik gua di SMA, kalian penyemangat gua, kalian keluarga gua. Maafin gua kalau ucapan gua sering nyakitin kalian, maafin gua kalau gua bercanda keterlaluan, maafin gua kalau selalu bikin kalian kesel disaat gua minta ajarin ke kalian, maafin gua kalau gua selalu nyusahin kalian, maafin gua kalau selama ini gua songong, angkuh, egois dan semacamnya, gua cuma mau bilang, kalian keluarga kedua gua setelah keluarga asli gua. Kalian udah gua anggep sebagai kakak-kakak gua, saudara-saudara gua, bahkan kadang kalian bisa jadi orangtua gua yang kadang nasehatin gua, kalian selalu ngasih yang kalian bisa buat gua, maafin gua kalau gua gabisa bales kebaikan kalian.
          Gatau kenapa gua pengen aja nulis ini dan gatau kenapa gua juga pengen ini dishare ke blog, gua cuma pengen orang-orang tau kalau gua orang yang beruntung bisa kenal kalian. Ini emang lebay, tapi serius, gua sayang banget sama kalian!

Senin, 28 Oktober 2013

love you, mapa!

                Kebahagiaan akan terasa lebih lengkap apabila kita dikelilingi oleh orang-orang yang kita cintai. Berbicara tentang cinta, ada beberapa orang yang tentunya tidak diragukan lagi ketulusan cintanya dan tidak akan pernah melepaskan cinta mereka untuk kita. Yaitu keluarga, terutama ‘Orangtua’. Keberhasilan dan perjuangan yang kita capai hari ini tidak terlepas dari cinta, kasih sayang, dukungan serta bimbingan dari orangtua. Bahagiaku surga mereka dan deritaku pilu mereka.
                Aku berdiri mengenakan toga ini disebuah jalan setapak yang gelap. Pandanganku tertuju pada dua orang yang sangat aku hargai, dua orang yang sangat aku hormati, aku cintai dan aku sayangi. Iya, mereka papa dan mamaku.
                Dengan disertai senyuman, aku berjalan menghampiri mereka. Seiring dengan langkah terlintas dibenakku atas apa yang mereka lakukan terhadap hidupku selama ini. Mama yang telah mengandungku selama sembilan bulan, mama yang sudah memperjuangkan hidup dan matinya hingga aku hadir di dunia ini, mama juga yang telah merawatku dengan penuh kelembutan dan kasih sayang. Papa yang telah bekerja banting tulang, ikhlas mengeluarkan keringatnya agar aku dapat menikmati hidup, detik demi detik hari demi hari bahkan tahun demi tahun.
                Apakah yang dapat aku lakukan untuk membalas mereka? Sering aku tutup kuping gak mau dengerin nasehat mereka, sering banget aku bohong kepada mereka untuk kepuasanku, sering aku melawan jika marah karena kenakalanku, sering juga aku banting pintu dihadapan mereka jika mereka tidak mengabulkan permintaanku. Dan bahkan sering aku mengeluarkan kata-kata kasar yang gak pantas mereka dengar dari bibirku, dasar cerewet, kuno, kolot, tapi apakah mereka memendam rasa dendam terhadapku? Tidak! Tidak sama sekali! Mereka dapat tulus memaafkan kekhilafanku, mereka tetap menyayangiku dalam setiap hembusan nafas mereka. Bahkan mereka tetap menyebut namaku dalam setiap doa-doa mereka hingga aku menjadi seperti sekarang ini. Ya Tuhan, betapa durhakanya aku. Tak sadarkah aku bahwa mereka orang yang sangat berarti dalam hidupku.


                Langkah-langkahku terhenti dihadapan mereka dan ku pandangi papa dan mamaku inci demi inci. Badan yang dulu tegak, kekar, kini mulai membungkuk. Rambut yang dulu hitam kini mulai memutih, dan kulit mereka yang dulu kencang kini mulai berkeriput. Ku tatap mereka yang berbinar-binar dan mulai meneteskan air mata bahagia, air mata haru, air mata bangga melihatku memakai toga ini. Ku cium tangan mereka, ku peluk mereka sambil berkata ‘Papa, mama yang aku berikan selama ini tidak akan cukup membalas semua yang telah papa dan mama yang berikan selama ini kepadaku. Terimakasih Pa... Terimakasih Ma... Aku sayang papa dan mama sampai akhir hayatku’.

re-post; voice note
puisi mama dan papa

Sabtu, 17 Agustus 2013

Selamat Ulangtahun, Kamu

Aku tahu, kamu tak akan mungkin membaca ini. Dengan segala daya dan upayaku, aku juga tak akan mungkin mampu membuatmu membaca tulisan aneh ini. Jelas saja aneh. Tulisan ini dibuat oleh seorang wanita yang dahulu pernah singgah di hatimu, dengan rasa sayang yang tak selaras dengan rasa sayangmu.
Tapi, mungkin, jika keajaiban membuatmu bisa membaca tulisan ini, aku hanya ingin bilang; tolong jangan tertawa membaca setiap kalimatnya. Disini, aku menjadi diriku yang sebenarnya tak mampu untuk  mengutarakan semua ini, walau hanya dengan tulisan. Aku sengaja mengundang kamu masuk ke dalam tulisanku, membiarkan kamu abadi dalam setiap abjad dan kalimat.
Kamu adalah sosok pria yang tak asing lagi di mataku, kamu begitu manis, gagah, dan langka; tak pernah ku jumpai sosok sepertimu lagi, karena hal itulah aku sulit untuk melupakanmu dan semua kenangan kita. Kenangan pahit bersamamu pun selalu ku ingat, apalagi kenangan manis.
Dalam bayangan, kamu bisa kubentuk menjadi sosok yang hangat, yang tak akan pergi dan terus kutahan disini hatiku. Tuan, apakah kauingin tahu? Di hatiku, kamu sudah jadi segalanya. Di otakku, kamu sudah menjadi senyawa yang mengingat dan menjerat.
Setiap malam, kureka wajahmu dalam angan. Kamu kembali menjadi sosok manis yang tak mau hilang dari ingatan.
Ah, aku menyesali perasaanku sendiri. Aku memang begini, selalu mencintai banyak hal setengah mati dan ketika benci bisa begitu sepenuh hati.
Tuan, semoga kamu tak bosan membaca suratku. Di surat kesekian kali ini, aku, pengagummu yang pengecut ingin mengucapkan selamat ulangtahun. Tetaplah jadi yang istimewa di balik sosokmu yang sederhana. Dan, satu lagi, tolong jangan tertawa ketika membaca ini; aku menyayangimu.
Untuk orang yang pernah jadi nomor satu di hatiku,
sosok yang tak pernah berhenti tersenyum,
sosok yang tak peduli akan perhatianku,
sosok yang pernah melukai hatiku,
Davin Muhammad Ardhana.


Special untuk kamu yang tanggal 10 Agustus ulangtahun.  Maaf ucapannya telat karena di Kampung signal harus nyari-nyari ke langit, dan sekarang baru dapet signal dari langit.

Jumat, 02 Agustus 2013

Capruk[dot]com

Gak tau kenapa gue nulis ini, dan gak ngerti apa maksud dan tujuan tulisan gue ini. Tapi anehnya gue tetep aja mau ngelanjutin tulisan gue yang aneh ini sedangkan gue sendiri aja gak ngerti apa tujuan di balik tulisan ini. Daripada banyak ngomong mending nyapruk aja dah. Yuk cus!

Gue gak paham apa yang ada di otak gue kenapa gue masih aja sayang sama orang yang sering banget bikin hati gue luka. Emang bener ya kalau ada orang yang bilang “Semakin kita sayang/cinta sama orang itu, maka kesempatan terbesar untuk nyakitin hati kita itu adalah dia.” Kayaknya sih bener, tapi gue tetep aja gak paham apa tujuan orang yang buat kata-kata itu, atau mungkin dia gak mau kalau oranglain ngerasain gimana rasanya di sakitin sama orang yang sebenernya dia paling sayang/cinta? Atau  mungkin dia hanya sekedar mengingatkan bahwa sayang terlalu dalam itu gak enak?

Menurut gue sih, iya, orang yang pertama kali bikin gue sakit hati adalah orang yang paling gue sayang/cinta; selain orangtua dan keluarga.

Nih ya, gue ada sedikit curcol gitu, dulu gue pernah sayang banget sama cowok, dan cowok itu lumayan lah, ganteng, keren, udah perfect bangetlah di mata gue. Cowok itu pernah bilang ke gue “Sayang, aku gak mau pacaran dulu setelah aku putus sama kamu. Aku  mau fokus sama band aku, mau bahagiain orangtua, mau fokus masuk SMA.”

Gue gak ngerti sama sekali sama apa yang dia omongin, dia bilang “Gak akan mau pacaran setelah putus dari gue.” Jadi, intinya, dia udah planning dong buat mutusin gue? Sementara gue sayang banget sama dia. Gak tau kenapa juga, gue baru ngeuh akhir-akhir ini kalau dulu dia pernah ngomong gitu ke gue. Entah emang lagi gak konsen atau emang lagi tergebu-gebu oleh cinta. Gak ngerti sama sekali.

Tapi apa yang dia lakuin setelah putus dari gue? Gak sampe 1 bulan dia udah jadian sama cewek lain, dan ceweknya itu, cewek paling gue gak suka di sekolah; adek kelas. Coba lo bayangin, betapa jijiknya jadi seorang gue yang harus nerima kenyataan bahwa orang yang paling kita sayang jadian sama orang yang paling kita benci?

Entah kenapa, 1 tahun 6 bulan pun berlalu setelah putusnya gue dan dia. Gue tetep gak bisa ngelupain orang yang udah ngumbar janji dan nyakitin gue. Sementara dia, dia senang-senang dengan kehidupan barunya sama cewek itu. Gue terlalu bodoh, emang.  Bodoh banget.

Satu sih pesan gue, jangan pernah sayang banget sama orang yang belum sepenuhnya jadi milik kita; suami/istri. Karena saat dia ninggalin lo dalam keadaan sayang-sayangnya, lo hanya bisa diem dan berkata “Ya Tuhan, katanya semua ini akan indah pada waktunya. Tapi kapan waktunya?” *muka Raditya Dika*


Capruk ya? Emang lagi capruk gue nulis ini, sama kayak judulnya, Capruk[dot]com.

Jumat, 12 Juli 2013

Words

Sebenernya udah lama pengen ngomong ini sama kamu, tapi baru sempet sekarang. Dan berani cuma lewat tulisan bukan ucapan. Keliatannya emang lenjeh sih, tapi harus gimana lagi. Ketemu aja jarang, baca sampe selesai ya :) ini cuma buat kamu.      Kamu bilang aku harus lebih sabar, ya kan? Kamu pikir aku kurang sabar, gitu? Kurang sabar apa lagi sih? Emang ada yang mau cewek ngucapin Good Morning terus-terusan duluan? Emang ada yang mau cewek ngucapin Good Night panjang-panjang tanpa ada ucapan Good Morning di pagi hari? Emang kamu pikir gak nyesek orang ngucapin Happy Anniversary tanpa ada balesan satu katapun? Emang kamu pikir enak gak di kabarin berhari-hari bahkan berminggu-minggu? Emang kamu pikir gak kesel orang ngoceh-ngoceh gak di tanggepin? Padahal aku ngoceh karena kamu, kesalahan kamu, dan rasa sayang yang berlebihan ini yang bikin kamu merasa risih atas ocehan aku. Bukannya minta maaf atau apa, ini malah di bales singkat bahkan sampe gak di balespun pernah. Entah kamu males nanggepin ocehan aku atau kamu gak mau ribut, aku gak tau pasti. Dimana sih hati kamu? Mikir dong sampe kesitu. Selama ini tuh kamu nganggep aku apa? Tempat pelarian? Di saat kamu gak ada temen smsan, kamu baru sms aku. Gitu?     Aku selalu kasih perhatian buat kamu, di saat kamu lagi bete, aku coba hibur kamu. Cuma kamu aja yang gak peka. Bukannya kepedean atau apa nih ya, suatu saat di saat aku udah gak sama kamu, kamu bakal kangen sama sosok aku. Yang selalu sabar, yang mau ngucapin Good Morning duluan terus, yang mau ngucapin Good Night tanpa ada ucapan Good Morning di pagi hari, yang mau ngucapin Happy Anniversary tanpa ada balesan, yang mau di saat ngoceh-ngoceh gak di tanggepin, yang mau gak di kabarin berhari-hari bahkan berminggu-minggu. Suatu saat itu bakal terjadi sama diri kamu sendiri. Pegang janji aku. Entah kapan, tapi bakal terjadi.     Semoga nanti kalau kamu udah dapetin cewek yang menurut kamu itu terbaik, jangan pernah lakuin kesalahan apa yang kamu pernah lakuin ke aku. Sakit, nyesek, kesel, jengkel, macem-macem deh itu rasanya. Asal kamu tau, aku sering nangis karena kamu. Maaf kalau selama ini aku banyak salah sama kamu, maaf juga aku banyak nuntut sama kamu. Aku udah gak kuat untuk terus-terusan kayak gini, aku mundur. Jaga diri kamu baik-baik ya, jangan nyakitin cewek lagi. Love you.

Kamis, 11 Juli 2013

Cerita nyerempet-nyerempet Curhat~

Inget gak waktu awal-awal kita kenal? Kita sebelumnya gak pernah kenal sama sekali, gue tau lo pun pas dikenalin sama temen gue. Lucu sih awalnya emang, gue minta kenalin cowok ke temen gue cuma karena gue pengen ngerasain gimana rasanya ulangtahun punya pacar. Nah dari situ kita mulai kenal.
          Gak etis sih emang dengernya kalau cewek minta dicariin cowok, tapikan iseng-iseng aja. Gak lama gue minta kenalin cowok, eh temen gue bilang “itu adiknya Jefrey, namanya Dimas. Dia kelas 7, lo mau pacaran sama adik kelas?” dengan iseng gue ngejawab “gak apa-apa lah, lagian baru kedua kali ini gue pacaran sama adik kelas yang sebelumnya sama si Ramdan hehe”
          Dari situ temen gue berani ngenalin gue ke lo. Tepatnya disekolah lagi ada class-meeting, lo duduk ditangga depan kelas 8A, dan gue berdiri sama temen-temen gue di depan kelas 9H. Kita lirik-lirikan, senyum-senyuman, gitu deh pokoknya susah dijelasin rasanya.
          Hari ini, tepatnya hari Kamis, 20 Desember 2012 lo nembak gue di depan kelas 7H, lab IPA baru. Dengan gagahnya lo bilang “Kak, kakak mau gak jadi pacar aku? Aku suka sama kakak.” Agak gengsi sih ya di panggil kakak, berasa tua gimana gitu. “Suka? Kok bisa? Sebelumnya kita kan gak pernah ngobrol, kenal juga enggak. Baru-baru ini kan aku tau kamu yang mana.” Jawab gue. “Aku suka kakak baik, cantik, lucu, humoris.” Jawab lo. “oh gitu.” Gue jawab dengan singkat, tapi agak mesem-mesem gimana gitu. “Jadinya gimana? Kakak mau gak jadi pacar aku?” Tanyanya. Dengan ragu-ragu gue jawab “mmm, gimana ya? Mmm mau deh.” “cieeeeeeeeeee.... PJ dong PJ” sorak anak-anak PMR, Paskibra, dan Pramuka.
          Di hari itu lo dan gue resmi jadi kita. Tapi anehnya, sehabis jadian lo gak sms-sms gue. Setelah gue cari tau ke orang-orang ternyata hand-phone lo rusak. Sempet sedih sih, tapi nyoba sabar.
          Jeng.... Jeng.... 15 Januari 2013 pun datang, hari ini tepatnya ulangtahun gue. Jam 00.00 lo gak ngucapin Happy Birthday, gue tunggu sampe pagi lo gak ngucapin juga, akhirnya di sekolah gue telpon ke nomor kakak lo, Jefrey. “Hallo, Jefreynya ada?” “Hallo, ini siapa ya? Ini ibunya Jefrey.” Mampus lo Ci, skak mat yang ngangkat ibunya. Ngomong apa lo mampus; dalam hati. “eh, engga bu, ini mau nanya kenapa Jefrey gak masuk sekolah?” dengan spontanitas gue nanya begitu. “iya nih, tadi berangkat dari rumah udah kesiangan *blablablablabla*” gak sempet dikasih kesempatan buat gue ngomong, ya udah gue potong aja omongan si ibu tadi. “maaf ya bu di potong, oh gitu ya.” “iya dek, *wekwekwekblablablabla*” “iya bu iya, nanti saya bilangin ya. Assalamualaikum.” Asdfghjkl ternyata nyokapnya cerewet abeeez.
          Siang ini ada rapat PMR, gue lupa mau ngomongin masalah apa waktu itu. Tiba-tiba anak-anak PMR dateng bawa kue ulangtahun 2, buat gue dan buat Kirana. Kagetnya bukan main, sedihnya juga bukan main. Kenapa kue gue bukan dibawain sama Dimas. Kenapa? Berasa di kutuk banget ini tuh. Oke ini lebay hahaha. Abaikan-abaikan.
          Habis maghrib hand-phone gue bunyi, ternyata ada sms dari Jefrey. Dan isinyaaaaaaaa...................................................................... “Happy Birthday sayangku yang ke 15 tahun. Semoga makin pinter, dewasa, sayang sama aku. Maaf aku baru ngucapin, aku baru sempet sms kamu. Maaf banget sekali lagi. I love you so much darl.” Ucapan ituuuuu, masyaAllah kaya obat penenang dari kegalauan. Watdezig hahaha. Tapi ya tapiiii, bukan untuk yang ke 15 tahun, tapi untuk yang 14 tahun. Sedih juga sih pacar sendiri gak tau kalau kita ulangtahun yang ke berapa. Tapi di maklumin sih karena emang kita jarang komunikasi. Sampe-sampe hari ini tanggal 20 Januari 2013 kita Anniv, kita masih belum berkomunikasi, ketemu di sekolahpun cuma mesem-mesem gitu doang. Sedih ya, tapi harus gimana lagi.
          Dan akhirnya gue putusin bahwa ulangtahun dengan ataupun tanpa pacarpun “SAMA AJA, GAK ADA BEDANYA.”
          Berkali-kali tanggal 20 kita lewatin, sampe akhirnya sekarang tanggal 20 untuk yang ke 5 kali, gue ngucapin Happy Anniversary panjang-panjang, dan wish yang buanyakkkkk banget, lo gak bales satu kalimatpun. Happy Anniversary balik aja enggak, sabar banget ya jadi gue. Beruntung lo dapetin gue, cewek yang sabarnya super duper sabar banget-banget-banget-bangetan. Lo bales sms gue tanggal 21 Mei 2013 dengan kata-kata “Maaf hand-phone aku baru dibenerin.” Se-singkat itu dan se-gampang itu lo bales sms gue yang panjang lebar. Jahat banget ya lo.
          Disaat itu lo nanya “kamu mau aku kaya gimana?” bodoh banget gak sih nanya kaya gitu? masyaAllah banget ya polosnya ga ketulungan, bukan polos sih. Dongo lebih tepatnya. Gue cuma jawab “aku mau kamu jadi diri kamu sendiri. Cuma aku ngerasa aku kurang di perhatiin sama kamu.” Dengan polos lo jawab “nah gitu dong, kan jadi enak di akunya. Aku coba perhatian sama kamu sedikit demi sedikit ya sayang.” Sumpah ini anak bego apa gimana sih, udah 5 bulan pacaran tapi baru mau usaha nyari tau kurangnya dia tuh apa. Gue gak munafik sih, emang gue mau dia perhatian sama gue, gue gak mau dia jadi pribadi dia yang cuek banget sama gue. Gak salah kan ya? Gak dong? Ya enggak lah hahaha.
          Saat itu, gue pegang janji dia yang mau berubah sedikit demi sedikit untuk jadi perhatian sama gue. Tapi sampe hari ini, tanggal 20 untuk yang ke 6 kali, lo masih gini-gini aja. Cuek banget, dan gak ada perhatiannya sama sekali sama gue.
Kejadian Anniv yang ke-lima-pun terulang. Gue ngucapin Happy Anniversary panjang-panjang tapi gak di bales balik dengan ucapan Happy Anniversary juga. Dikira gue apa yang Anniv sendirian:’). Kecewa, demi apapun juga kecewa banget. Tapi Anniv sekarang gak begitu parah banget sih kaya Anniv-Anniv sebelumnya, Dimas masih on twitter dan sempet ngabarin gitu. Gue bilang “ucapannya gak mau dibales apa?” dan lo bilang “bales gimana atuh, aku mah gak bisa bales kaya kamu yang puitis gitu.” Ya Allah segitunya kah?:’)
Orang-orang sih pada bilang, “kok lo bisa tahan sih sama cueknya Dimas? Dimas kan gini gini gini gini.” dengan jelas gue jawab pertanyaan orang-orang “lo semua gak ada di posisi gue, jadi lo gak bisa ngerasain gimana sayangnya gue ke Dimas. Gue mau taruhan sama lo semua, kalau lo semua ada di posisi gue, lo juga bakal ngelakuin hal yang sama kaya gue. Gue gak bisa ngejabarin dengan jelas kenapa gue bisa kaya gini ke Dimas. Tapi gue cuma mau nanya sama semua pertanyaan lo yang lo lontarin ke gue, seandainya lo ada di posisi gue lo mau gimana? Gue yakin lo semua bakal ngelakuin hal yang sama kaya gue kan? Kalau lo bilang enggak, lo munafik! Lo bohongin perasaan lo sendiri.”
          Dengan kalimat itu gue jawab satu pertanyaan dengan jawaban yang menurut gue sangat jelas alasannya kenapa gue kaya gini ke Dimas.
          Satu pesan yang gue pengen sampein ke lo-lo-semua, jangan pernah deh main-main sama yang namanya perasaan, apa lagi sampe iseng-iseng. Jangan! Karena pada akhirnya lo sendiri yang bakalan susah untuk ngelepasin perasaan tersebut.

-Kesamaan nama, tempat dan waktu hanyalah fiktif belaka. Mohon di maklum, lagi galau hahahaha.